Jokowi Dan Soekarno, Mitos Atau Kebetulan?

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Membaca Surat “Terbuka Untuk Presiden Jokowi” dari seorang pembencinya dan kebetulan menjadi korban bencana gempa di Lombok. Tulisanya viral di medsos. Membuat banyak pembaca terharu dan melankolis dibuatnya. Sebuah tulisan yang jujur, ekspresi dari hati yang paling dalam seorang Muh. K. Anwar.

Saya tertarik menulis opini ini terkait fenomena di atas. Tulisan Muh. K Anwar mendapat komentar luar biasa dari para pembaca. Ia pembenci Jokowi yang mendukung tagar #Ganti Presiden. Ia tak rela Jokowi terpilih kembali jadi Presiden.

Persepsi Muh. K Anwar menjadi berubah sebaliknya. Dari benci menjadi mengagumi. Melihat seorang Presiden RI tidur di karpet bersama rakyat, wudhu dari gentong dengan menghemat, menjadi imam sholat ditenda darurat. Presiden berbaur bersama rakyat ikut empati memberi dukungan dan semangat dalam musibah.

Dalam suratnya Muh. K. Anwar menuliskan ada satu fenomena yang unik terjadi ketika Jokowi hadir, sholat berjamaah dan tidur di tenda bersama rakyat. Apa yang terjadi? Suasana alam di sekitar bencana menjadi tenang, damai dan tidak ada gempa. Padahal sebelumnya gempa terus terjadi, dari informasi BMKG tercatat 593 gempa susulan. Malam dimana Jokowi hadir begitu damai dan tenang, gempa terhenti saat kehadirannya.

Kehadiran Jokowi membuat damai, dalam suratnya Muh. K. Anwar menuliskan “Bahkan suara tangis anak-anak yang biasanya berisik malam ini tidak terdengar. Anak saya juga tidak rewel. Malam yg begitu tenang. Seakan tidur kami dinina bobokkan oleh seorang ayah pada anak-anaknya.” Tulisan ini adalah sebuah ekspresi dan narasi dari realitas kedamaian saat Presiden “menidurkan” rakyatnya.

Kehadiran Jokowi seolah membuat alam tersipu malu dan kooperatif. Seolah alam menurut dan manut pada Jokowi. Inikah kharisma orang yang banyak dihujat dan dibenci? Mengapa alam malah nurut dan manut? Apakah bencana di negeri ini adalah teguran pada kita yang membenci pemimpin padahal jiwa raganya dikorbankan untuk rakyatnya? Jagalah hati, jangan kau kotori, demikian kata Aa Gym.

Fenomena di atas terkait kehadiran Jokowi yang membawa kedamaian, mengingatkan Saya pada kisah Bung Karno saat hadir di Bali. Saat itu Bali sedang dilanda kemarau panjang. Begitu menyiksa kemarau yang menimpa Bali. Masyarakat Bali percaya Bung Karno punya keistimewaan dan mampu menjadi sosok pembawa berkah.

Dalam buku karya Cindy Adams yang berjudul “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” Bung Karno mengatakan Saat itu, “Terus terang, aku memanjatkan doa syukur ke hadirat Yang Maha Pengasih manakala turun hujan selama aku berada di Tampaksiring,” Ajaib bagi orang Bali. Hujan pun turun saat Bung Karno berkunjung ke Bali. Bung Karno datang hujan pun turun.

Realitas fenomena keajaiban seorang Bung Karno dan Jokowi apakah sebuah kebetulan? Bagi kita yang rasional, ya. Itu sebuah kebetulan. Saat Bung Karno datang dan saat Jokowi datang memang saatnya hujan turun dan saatnya gempa berhenti. Namun, bagi para spiritualis dan ahli bawah sadar hal ini bukan semata kebetulan. Fenomena di atas adalah aura Sang pemimpin dan kekuatan bawah sadar yang menyatukan semuanya.

Pepatah bijak mengatakan, “Apa yang diyakini dan dipikirkan akan menimpa diri. Hati-hati dengan keyakinanmu dan pikiranmu, Ia akan membawa kemanapun kamu mau.” Kehadiran Jokowi bisa jadi menstimulus alam bawah sadar dan alam sadar semuanya, sehingga terciptalah damai dan keheningan yang direspon alam jagat raya. Jokowi dan Bung Karno adalah dua Presiden yang hadir dalam fakta sejarah bangsa kita.

Mari kita berdoa, semoga bencana di Lombok segera berakhir. Hindarkan bangsa ini dari berbagai bencana. Jadikan bangsa ini sebagai bangsa yang beruntung, berkah dan sehat jasmani dan sehat mentalitasnya. Semoga tidak ada orang sakit yang berpikir bahwa bencana Lombok dikaitkan dengan pernyataan TGB terkait dukungan politik. Sungguh sebuah perspektif yang hewani dan keji. Wallahu A’lam

(20)