Mengapa Jokowi Akan Terpilih Kembali?

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Pilpres 2019 adalah mengulang dua petarung politik terbaik di negeri ini antara Jokowi dan Prabowo. Keduanya punya pengagum fanatik, plus dua Cawapres yang baru yakni Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno. Keduanya akan memberikan rasa berbeda dibanding Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla. Istilah Pilpres “Rasa Cawapres” pun mengemuka.

Saat momen Idul Adha hari Rabu tanggal 22, tahun 2018, Saya mendapatkan “bisikan langit” bahwa Jokowi akan unggul bahkan perolehan suaranya jauh akan lebih tinggi dibanding Pilpres 2014. Bisikan langit ini tidak rasional dan bersifat spiritualitik, namun pengalaman ini terkadang banyak terbukti dalam kehidupan yang Saya alami.

Jadi Pilpres 2019 hanya akan mengukuhan Jokowi dua kali jadi Presiden. Ini sudah takdirnya, Jokowi akan tercatat menjadi Presiden dua periode. Kalau Allah menghendaki maka segalanya akan terjadi, sekalipun risak, hujat, fitnah dan kebencian terus diguyurkan kepada Jokowi, Ia akan tetap menjadi Presiden.

Manusia tidak dapat melawan Tuhan. Kadang Saya berfikir, Jokowi ini adalah sosok yang dihadirkan Tuhan atas do’a bangsa Indonesia yang sudah puluhan tahun benci KKN. Para penghujat lupa bahwa mereka pernah berdo’a agar dihadirkan pemimpin (Presiden) yang anti KKN. Do’a mereka adalah hadirnya Jokowi, namun mereka tak mengerti, bahwa sosok yang mereka benci adalah sosok yang sesungguhnya buah dari do’a mereka.

Sahabat pembaca, kalau kita mau jujur proses politik di negeri ini masih jauh dari ideal. Berbagai kebodohan, khianat, intrik, friksi dan saling menjatuhkan terus terjadi. Bila Tuhan tidak turun tangan maka Indonesia akan semakin binasa dan jauh dari keadilan dan kesejahteraan. Walaupun pada hakekatnya semua kejadian tentu atas dasar ijin Illahi.

Saya melihat kehadiran sosok Jokowi adalah dominan campur tangan Tuhan. Bukan murni hasil proses politik. Jokowi muncul karena do’a rakyat Indonesia yang puluhan tahun membutuhkan sosok seperti dirinya. Jokowi bukan tokoh politik. Jokowi bukan orang partai. Jokowi bukan penggila kekuasaan, Jokowi bukan manusia ambisius, Jokowi hanya manusia biasa yang menjadi luar biasa ditengah-tengah “gundukan” manusia pemimpin yang mayoritas bermasalah.

Jokowi bukan sosok hebat, Ia menjadi hebat dan istimewa karena hidup dikeliling manusia-manusia yang mayoritas tidak jujur dan khianat. Jokowi adalah pribadi pengkhidmat. Ia adalah manusia pekerja, pengabdi dan jauh dari perilaku yang buruk. Jokowi adalah pribadi berkarakter baik. Ia tidak berapi-api ingin meraih kekuasaan. Ia adalah pribadi yang memiliki api kebaikan dalam dirinya.

Api khidmat, Api kejujuran, Api keteduhan dan ketenangan yang merakyat dari aura dirinya adalah representasi apa yang diinginkan rakyat kita. Wajah rakyat, sikap merakyat walau terkadang dianggap pencitraan, hal ini adalah reaksi alami karena kekagetan publik. Kaget karena pemimpin sebelumnya tak pernah masuk got, kebanyakan masuk ruang VVIP. Protokoleristik dan serba berkarpet merah. Jokowi hadir menjungkirbalikan berbagai kemewahan yang melekat pada para pemimpin.

Banyak yang tidak siap dengan segala kesederhanan dan perilaku Jokowi yang merakyat terutama kalangan kelas menengah ke atas. Apalagi lawan politik, sifat dan perilaku Jokowi menjungkirbalikan sifat-sifat para pemimpin sebelumnya. Sifat KKN lenyap perlahan dan berubah menjadi Kerja, Kerja dan Kerja.

Tulisan ini adalah sebuah refleksi sederhana dari Saya sebagai pribadi pendidik yang mendapat “pesan langit” bahwa Jokowi akan terpilih kembali sebagai Presiden. Merasionalisasi pesan langit, mengapa Jokowi akan unggul kembali memimpin Indonesia? Setidaknya ada beberapa faktor pendukung.

Pertama, Ia tidak melakukan KKN, Korupsi jauh dari pribadi Jokowi. Pemimpin korup adalah pemimpin yang paling dibenci di negeri ini. Gap ketidakadilan yang merupakan tuntutan Pancasila sila kedua diantarnya adalah buah dari merajarelanya korupsi.

Jokowi hadir sebagai pemimpin yang justu berusaha menyembuhkan sakit korupsi di negara ini. Memberantas korupsi mulai dari atas adalah filosofinya. Memberantas korupsi harus dilakukan oleh pemimpin yang sudah selesai hidupnnya.

Kedua, matinya serangan politik identitas. Hadirnya Ma’ruf Amin menyelesaikan serangan politik kotor atas nama agama. Justru Jokowi telah melaksanakan “ijtima” ulama dengan memilih Ma’ruf Amin.

Stigma kriminalisasi ulama yang dilakukan Jokowi mati muda sebelum masa kampanye. Jualan politik agama menjadi tak efektif. Politik agama paling efektif di negeri sumbu pendek dan kini akan berakhir. Bahkan bisa menyerang balik pada pihak yang pertama melahirkannya.

Ketiga, suara gemuk penolak Jokowi adalah rakyat Jawa Barat, Rakyat Jawa Barat adalah suaranya paling gemuk dalam menolak Jokowi. Jualan politik #Ganti Presiden saat Pilgub hanya menguat di Jabar.

Dahulu Jabar adalah rumahnya partai politik penolak Jokowi. Kini tidak lagi. Hadirnya Ridwan Kamil sebagai gubernur terpilih yang sejak awal mendukung Jokowi akan menjadi “mesin politik” yang efektif dalam meredam maraknya anti Jokowi di Jabar.

Keempat, dukungan NU, Muhammadiyah, partai koalisi, relawan Jokowi dan sejumlah komunitas tertentu masih pro Jokowi. Jokowi dianggap masih harus melanjutkan kerjanya dalam memperbaiki Indonesia. Tidak cukup lima tahun dalam membangun Indonesia, setidaknya harus sepuluh tahun. Dua periode bagi Jokowi adalah sebuah prasyarat berlanjutnya pembenahan revolusi mental dan revolusi infra struktur.

Kelima, PGRI dahulu digiring memilih Prabowo. Kini tidak lagi PGRI lebih netral dan bahkan terlihat lebih mendukung Jokowi. Ketua Umum PB PGRI bahasa tubuhnya memilih Jokowi untuk dua periode. Tiga juta guru dan dan jutaan keluarga serta relasinya akan mengarah ke Jokowi. Jokowi dianggap ramah bagi PGRI. Bukankah Jokowi menikahi putri seorang anak guru SD?

Keenam, naiknya gaji PNS, pensiunan, tunjangan Babinsa, dana desa, adanya THR, pemberian sertifikat, jaminan kesehatan masyarakat serta kemudahan dalam pendidikan akan menjadi penguat elektabilitas Jokowi. Sebagai incumbent, Jokowi memiliki ikatan emosional lebih kuat dengan semua abdi negara dan selalu eksis dalam binkai kegiatan kenegaraan.

Ketujuh, momen khusus Asian Game menjadi bagian dari peneguhan eksistensi Jokowi. Sungguh memukau tampilan Jokowi saat pembukaan Asian Game. Pembukaan Asian Game seolah menjadi panggung khusus. Seolah seluruh rakyat Indonesia dan dunia mengenali Jokowi lebih narcistik dan gaul. Ia menjadi lebih dikenali. Tak kenal maka tak sayang.

Kedelapan, keluarga yang harmonis dan penuh kesederhanaan. Ibu Iriana hampir tak pernah memperlihatkan penampilan yang wow dan nyeleb. Ia Ibu Negara, pantas terlihat mewah dan wow. Namun Ibu Negara yang satu ini nyaris tak terlihat nyeleb. Bahkan kurang narsis dan nampang. Ia tersembunyi dan tak suka memperlihatkan sebagai Ibu Negara. Tidak pernah kita mendengar statemen Ibu Negara yang menghebohkan. Ia adalah Ibu Negara dan Ibu yang baik bagi keluarga Jokowi.

Kesembilan, rekaman masa lalu Jokowi menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia bebas dari dosa dan beban masa lalu. Ia adalah pemimpin yang ringan melangkah. Sekalipun Ia harus kalah di Pilpres 2019, Ia tetap akan bersyukur setidaknya pernah menjadi Presiden. Kalau Ia unggul kembali maka Ia hanya akan kerja, kerja, kerja dan melanjutkan pembangunan negeri ini.

(45)