Ini Hasil Perjuangan PGRI

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Pendidik Dan Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Karena TPG hasil perjuangan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) maka PGRI bertanggung jawab pula memperjuangkan ribetnya administrasi pencairan TPG. Berulang-ulang Saya melihat Ibu Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Dr.Unifah Rosyidi mengingatkan Mendikbud terkait “derita” guru dalam pencairan TPG.

Mulai tahun ini guru tetap cair TPGnya bila sakit 1 sampai 14 hari. TPG tetap cair bila melaksanakan ibadah haji yang pertama kali. TPG tetap cair bila cuti satu bulan dengan alasan penting. Ini tertera dalam Lampiran Permendikbud terbaru No 10 Tahun 2018, pasal 5 butir a, b dan c.

Ketua Umum PB PGRI telah berhasil menyampaikan aspirasi para guru Indonesia terkait beberapa kendala pencairan TPG. Banyak kasus guru sakit, guru cuti, guru melaksanakan ibadah haji, umroh dan sejumlah kegiatan lain yang menyebebkan TPGnya hilang. Perjuangan PGRI menyuarakan ada ketidakadilan dalam penyaluran TPG terus disuarakan.

Akhirnya keluar Permendikbud No 10 Tahun 2018 Tentang Penyaluran Tunjuangan Profesi, Tunjangan Khusus, Dan Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah. Permendikbud ini telah memberi jawaban atas dinamika derita guru terkait TPG. Dalam Lampirannnya terdapat beberapa poin yang mulai berpihak pada guru.

Saya menyaksikan sendiri saat Ibu Ketua Umum PB PGRI “memaksa” Mendikbud agar mengubah juknis pencairan TPG. Saat itu Mendikbud langsung menjawab tuntutan Ibu Ketua Umum PB PGRI dihadapan ribuan anggota PGRI saat Konkernas V Batam, saat pelantikan APKS di Aula PB PGRI. Beberapa kali Mendikbud menyatakan akan mulai mengubah juknis pencairan TPG.

Sentuhan halus, aspirasi yang disampaikan berulang-ulang kepada Mendikbud dihadapan anggota PGRI akhirnya berbuah. Ketua Umum PB PGRI, Dr.Unifah Rosyidi telah membuktikan bahwa tanpa demo dan guru tetap mengajar dengan baik, aspirasi diterima. Kita percaya dan yakin Ibu Ketua Umum Dr. Unifah Rosyidi akan terus bergerilya memperjuangan masalah guru lainnya.

Masih ingat dalam pikiran Saya seorang guru SMAN 1 Kota Sukabumi bernama H.Ukos begitu kecewa pada negeri ini ketika Ia melaksanakan iabadah haji. TPGnya dua bulan tidak dapat diterima. Padahal menurutnya ibadah haji itu perintah agama dan sangat positif bagi personalitas guru. Mengapa negara seperti “melarang” guru beribadah haji? Ini tidak adil menurutnya, kecuali haji yang kedua Ia setuju hak TPGnya tidak dicairkan.

Masih teringat kuat dalam pikiran Saya Ibu Noneng SMPN 10 Kota Sukabumi yang hilang TPGnya karena sakit lebih dari 4 hari. Ia terbaring di rumah sakit karena keguguruan? Mengapa Ia keguguran? Karena saat Ia hamil muda berlari-lari di atas rel kereta api berusaha melerai siswa SMP yang akan tawuran, Ia telah mengabdi pada negara sampai “mengorbankan” bayi yang dikandungnya, namun malah Ia mendapat sanksi TPG tidak cair. Adilkah? Tentu sangat tidak adil.

Masih teringat kuat dalam pikiran Saya ketika PGRI Kota Sukabumi mengeluarkan statemen di media group Jawa Pos dengan judul “PGRI Kota Sukabumi Tolak Pengembalian TPG”. Saat itu Saya memimpin diskusi dengan pihak inspektoran dan BPK. Beberapa guru dipaksa harus mengembalikan TPG karena sakit, umroh, haji dan beberapa hal lainnya yang sangat tidak rasional.

Puluhan guru mendapat desakan dari Pemda dan Disdik agar segera mengembalikan TPG. Beberapa guru yang ta’at ada yang mengembalikan dan mencicil. Bahkan di Kabupaten Tasikmalaya sejumlah guru iuran demi solidaritas mengembalikan dan TPG pada pemerintah senilai ratusan juta rupiah. Ini sebuah derita terkait TPG.

PGRI terus berjuang, dan kini Permendikbud No 10 tahun 2018 memberi jawaban. Apa yang PGRI perjuangkan berhasil. Perjuangan melalui audiensi, diskusi khusus, FGD, Konkernas V, acara Halbil PGRI, seminar Nasional dan daerah di PGRI yang menghadirkan pejabat Kemdikbud terus disuarakan. Alhamdulilah saat ini perjuangan itu mulai berbuah.

Bagi yang ibadah haji pertama kali di bulan ini selamat berhaji. Bila pulang dari ibadah haji sakit lebih dari 4 hari tidak akan mengganggu hak TPG. Bagi yang cuti khusus, TPG tetap didapat. Selama ada kebijakan yang dirasa tidak adil PGRI akan terus “teriak”. Bahkan sekalipun anggota PGRI dan anggota yang bukan PGRI lupa pada PGRI sebagai organisasi yang melahirkan TPG, PGRI akan terus berjuang.

Pepatah bijak mengatakan teriak-teriak sendiri sekalipun benar akan dianggap “orang edan” namun, bila aspirasi disalurkan melalui mekanisme organisasi dengan santun, tepat waktu, logis, aspiratif, objektif dan memiliki konsep jauh akan lebih diterima. Namun walaupun berteriak sendiri terlihat edan, Saya lebih menghargainya dibanding orang-orang yang “kacang lupa TPG”.

Maksud Saya kacang lupa kulitnya, TPGnya dijadikan nafkah bagi keluarga dan menjadi darah daging. Tetapi PGRI dianggap tidak ada, tidak peduli dan sulit berpartisipasi. Ini masuk pada kategori guru lupa kacangnya. Sahabat juang PGRI jangan lelah berjuang untuk guru, teruslah berjuang. Sang Pahlawan selalu berbuat untuk orang lain, sekalipun orang lain tak mempedulikannya.

Selama etika organisasi para guru masih apatis. Selama kewajiban diabaikan dan hak dituntut dengan keras selama itu pula guru masih jauh dari berkah. Aktif di organisasi profesi itu wajib amanah UURI No 14 Tahun 2005 dan TPG adalah hak. Semoga kewajiban dan hak dapat diposisikan secara elok. Guru semuanya sarjana, maka sejatinya faham mana hak dan mana kewajiban. Mana hak mana batil, mana khidmat mana khianat.

Kalau anggota faham dan tahu bagaimana Ketua Umum PB PGRI Dr.Unifah Rosyidi hampir tidak tidur memikirkan nasib guru. Ia mewakafkan dirinya untuk para guru. Saya tahu persis lelah dan derita yang dialaminya demi memperjuangakn guru.

Ia bahkan terkadang sudah tidak memikirkan dirinya selain bagaimana guru dan PGRI lebih baik. Semoga Allah memberikan kesehatan, keberkahan dan bahagia bagi siapapun yang berkhidmat untuk orang lain. Takbir!

(786)