Warga Mekar Mukti Akan Tagih Janji Politik Aa Umbara, Tentang Kios Gratis

Pewarta : Lina

Koran SINAR PAGI, KBB,– Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Bandung barat telah usai dan sukses mengantarkan pasangan nomor urut 3, Aa Umbara Sutisna dan Hengky Kurniawan menjadi pemenang sementara hasil quick count.

Kemenangan pasangan AKUR (Aa Umbara Sutisna – Hengky Kurniawan memumbuhkan harapan bagi warga masyarakat Desa Mekar Mukti untuk segera merealisasikan janji politiknya untuk merevitalisasi Pasar Cihampelas KBB, yang mana pembangunannya saat ini terhenti, paska pelantikannya sebagai Bupati/Wakil Bupati KBB nanti.

“Kami berharap revitalisasi pasar bisa segera dilanjutkan kembali dan Bupati terpilih segera merealisasikan janji politiknya untuk memfasilitasi kios pasar secara gratis,” ucap warga.

Dikatakan oleh H Ridwan salah seorang pedagang sembako yang ditemui disekitar Pasar Mekarmukti mengeluhkan, pihak pemerintah desa terkesan memaksakan kehendak untuk pembangunan pasar tersebut. Padahal para pedagang telah menyatakan keberatan dengan harga yang ditawarkan.

“Harga kiosnya Rp.65 juta dengan pembayaran cicilan pertama sampai ketiga masing-masing harus sepuluh persen, terus kami harus bayar apa karena bangunannya juga belum ada sampai sekarang,” tuturnya.

Sumber lainnya, seorang pedagang pakaian Iis (47) mengatakan, selama ini para pedagang tak pernah diajak bermusyawarah terkait rencana revitalisasi pasar. Tiba-tiba para pedagang diminta untuk membayar kios atau lapak kaki lima dengan harga yang cukup mahal.

“Harga cicilan kios yang ditawarkan mahal dan pedagang tidak sanggup untuk membayarnya. Pada saat berjalannya masa kampanye Aa Umbara dari pasangan nomor urut 3 yang berpasangan dengan Hengky Kurniawan getol blusukan dengan mendatangi rumah – rumah pedagang pasar Mekar Mukti dan berjanji akan menggratiskan kios pasar dengan catatan harus mendukung dan mencoblos nomor urut.3 ( AKUR ),” kata Iis yang mengaku rumahnya sempat didatangi oleh Aa Umbara di Kp.Nyalindung Desa Cihampelas Kabupaten Bandung Barat.

Azis Ketua Badan Permusyawaratan (BPD) Desa dari Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, Bandung Barat, mengungkapkan kekesalannya, pasalnya, ia merasa diintervensi pihak DPRD mengenai revitalisasi Pasar Cihampelas yang hingga saat ini mangkrak dan tidak jelas pembangunannya.

Ia merasa bahwa saat itu Aa Umbara Bupati terpilih masih menjabat sebagai Ketua DPRD Bandung Barat, mempolitisir pedagang untuk kepentingan kampanyenya guna mendulang suara atas pencalonannya menjadi Bupati Bandung Barat. Bahkan, menurut Azis, Aa Umbara telah mengiming-imingi pedagang Pasar Cihampelas bila mana ia terpilih menjadi bupati, kios dan los dipasar itu akan digratiskan.

Hal itu sontak menjadi polemik dimana ia beserta pemerintah desa setempat ingin merevitalisasi pasar dengan menggunakan pihak ketiga atau swasta, menurutnya pembangunan pasar ini tertunda karena telah digiring keranah politik oleh Umbara, Azis berencana untuk menggali PAD Pasar Cihampelas bukan tanpa tujuan.

Ia mengungkapkan kekecewaannya bahwa dari keberadaan pasar itu, warganya hanya bisa menjadi tukang beca, tukang ojeg, dan kuli saja. Karena, sebagian besar kepemilikan kios dipasar itu, bukan sepenuhnya warga asli Cihampelas, “Masyarakat tidak pernah mendapatkan untung dari keberadaan pasar ini. Seorang ketua dewan bukan mencerdaskan namun malah membuat rakyat bodoh. Janji dia jika menang maka pasar akan digratiskan. Ini tidak mungkin. Yang jelas saya sangat kecewa dengan janji politik Aa Umbara,” tandas dia.

Selain itu Azis menilai, bahwa pengelolaan Pasar Cihampelas tersebut amburadul dan tidak tertata dengan baik. “Jika seperti itu, dari mana kami bisa mendapat manfaat dari keberadaan pasar Cihampelas. Lalu kami harus menggali PAD-nya bagai mana ?. Pemikiran ini harusnya didukung oleh pemerintah. Seharusnya DPRD KBB mengapresiasi hal ini. Tapi kenyataannya malah dihambat. Pembangunan pasar desa bisa dibangun atas ijin dari bupati atau walikota. Bupati mendukung namun ketua DPRD menghambat atas dasar yang tidak rasional,” ungkapnya kesal.

Setelah pilkada ini usai, Azis akan meneruskan program revitalisasi tanpa campur tangan DPRD, “Mudah-mudahan dengan telah diperbaikinya Pasar Cihampelas, warganya bisa menikmati keberadaan pasar tradisional itu dengan harapan bisa bersaing dengan pasar modern,” ujarnya.

Untuk merebut simpati pemilih, tak jarang para kandidat mengumbar janji, namun kemudian lupa diwujudkan saat sudah berkuasa. Masyarakat Indonesia tentu sudah sering mendengar janji seperti itu. Hampir semua orang yang mencalonkan diri menjadi pemimpin, pernah memberi janji pada pemilih. Dari calon lurah sampai calon presiden, semua mengobral janji.

Mengapa politisi ingkar janji? Ada beberapa alasan. Salah satunya adalah karena terjadi perubahan antara saat ia mengucapkan janji dengan saat ia harus merealisasikannya. Misalnya seorang calon pemimpin berjanji mengurangi angka kemiskinan. Ternyata saat berkuasa, terjadi krisis ekonomi, sehingga sulit mewujudkan janji itu. Alasan lain, dan sayangnya ini yang banyak terjadi, seorang calon pemimpin memberi janji semata-mata hanya agar dia terpilih, tujuannya hanya meraih simpati agar orang memilihnya. Seringkali janji-janji itu tidak masuk akal. Dalam pemilihan Pilkada lalu, kita juga mendengar banyak janji-janji yang sepertinya asal ucap karena hampir tak mungkin dilaksanakan. Walau mustahil dan aneh, toh janji-janji seperti itu tetap dilontarkan sekadar untuk meraih suara.

(278)