TPS 23 Kelurahan Helvetia Tengah Diduga Lakukan Kecurangan

Pewarta : Ester

Koran SINAR PAGI, Kota Medan,- Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di Sumatera Utara yang diharapkan jujur adil dan bersih ternyata masih dinodai oleh ulah segelintir oknum yang tidak bertanggungjawab.

Disana-sini masih saja terjadi upaya kecurangan demi memenangkan salah satu pasangan calon (Paslon).

Seperti yang terjadi di TPS 33 Kelurahan Helvetia Tengah, Kecamatan Medan Helvetia, diduga telah terjadi kecurangan terkait pencoblosan dan pembagian surat suara.

Menurut penuturan Pasaribu (68), warga Kelurahan Helvetia Tengah yang mencoblos di TPS 33 tempatnya memilih itu diduga telah terjadi kecurangan yang harus disikapi oleh Bawaslu.

“Dari awal saat saya sampai di TPS sudah terlihat kejanggalan, seperti saat ada seorang pria tak dikenal yang tidak masuk sebagai DPT datang mencoblos di TPS 33. Kalau saja saat itu saya tidak protes pasti sudah mencoblos,” kata Pasaribu.

Menurut Pasaribu, sebagai Ketua KPPS sudah seharusnya mengerti aturan dan ketentuan tentang tata cara penyelenggaraan Pilkada termasuk hak dan kewajiban para pemilih yang hendak mencoblos di setiap tempat pemungutan suara (TPS).

“Padahal Ketua KPPS nya orang sini dan sudah sering menjadi pelasana, harusnya kan Ketua KPSS terlebih dahulu menanyakan indentitas pendukung pemilih, apalagi tidak terdaftar di DPT 33, mulai dari Suket, KK dan KTP, ini main kasih aja,” ungkap pria paruh baya itu.

Ternyata bukan itu saja, dugaan terjadinya kecurangan di TPS 33 juga disampaikan oleh Jhonson Tambunan. Saksi luar TPS dari Paslon No 2 itu mengatakan, puluhan pemilih yang tidak memiliki surat suara mendatangi TPS 33 sekira Pukul 12.00 WIB. Setelah mendaftarkan diri mereka pun langsung duduk di bangku yang telah disediakan.

Anehnya, setelah mereka duduk, tak berapa lama kemudian Ketua KPPS membagikan satu persatu Surat Suara ketempat duduk mereka.

“Anehkan, masa Ketua KPPS membagikan Surat Suara kepada pemilih ke bangkunya, Janggalkan ? Ketua KPPS harusnya memanggil mereka satu persatu, setelah data pendukung mereka dianggap benar barulah diberikan Surat Suara untuk mencoblos. Ada apa ini, yang pasti temuan ini akan saya laporkan kepada pimpinan saya” tutur Jhonson dengan nada kesal.

Ketika hal itu ditanyakan kepada Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Aji Said Zubaydi justru membantahnya.

“Gak benar itu, semua sudah sesuai prosesur. Mereka kan sudah mendaftarkan diri kepada anggota PPS,” kata Said.

Namun saat ditanyakan, apakah membagikan Surat Suara kepada pemilih adalah tugas KPPS ?, Said justru tidak menjawab.

Mirisnya lagi, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di TPS 33 terkesan membela. Panwaslu bernama M Baginda yang terlihat bingung itu hanya membenarkan keterangan yang disampaikan oleh Ketua KPPS tersebut tanpa bisa menerangkan bagaimana tata cara dan aturan yang sebenarnya sesuai dengan yang ada di buku panduan KPU.

Berdasarkan pantuan wartawan, hasil penghitungan suara di TPS 33, Paslon No 1 unggul satu suara dari Paslon No 2. Paslon No 1 meraih 182 suara, sedangkan Paslon No 2, 181 suara.

Surat Suara rusak 2 lembar. Jumlah DPT 550, dan untuk Jumlah Surat Suara berikut cadangan berjumlah 568. Sedangkan sisa Surat Suara berjumlah 203 lembar.

(115)