Belajar Toleransi Pada Arthanegara

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Saat berpuasa di hari terakhir menjelang detik-deti hari raya Idul Fitri saya dapat kiriman gambar dengan ucapan selamat hari raya Idul Fitri. Sosok yang mengirim Saya kenal sejak bertemu di Vietnam saat acara pertemuan para pendidik se Asean. Nama lengkap beliau adalah Gusti Bagus Arthanegara.

Dalam gambar yang dikirim nampak Beliau menggunakan peci muslim, baju muslim, sarung dan latar belakang sebuah mesjid yang agung dan indah. Kalau tak kenal beliau mungkin semua akan menduga beliau adalah seorang muslim yang taat. Sungguh indah melihat gambar dan ucapan tulus yang beliau kirim.

Seorang Arthanegara adalah penganut Hindu Dharma. Ia menjadi seorang yang penuh kasih dan bijaksana mungkin karena pengalaman dan kisah keluarga yang multireligi. Ia pernah belajar di Universitas Mahendradatta, Universitas Udayana, Universitas Muhamadiyah UHAMKA Jakarta dan Universitas Narottama Surabaya.

Arthanegara pun sempat belajar di luar negeri yakni di Beijing Yiyuan Sueyun dan di Adelaide Sidney. Istri keturunan China, dua anak dan menantunya menganut agama hindu dan muslim. Ia pun bersaudara berjumlah 11 orang, satu perempuan sudah hajah (muslim). Motto beliau adalah Tat Twam Asi, Engkau adalah Aku dan Aku adalah Engkau.

Ia mengatakan pada Saya “Pak Dudung adalah orang yang kebetulan lahir di Jabar dan saya (Arthanegara) adalah orang yang kebetulan lahir di Bali. Kebetulan dalam artian keinginan Tuhan setiap orang lahir dari rahim siapa, ditempat mana dan dari keturunan siapa. Itulah hidup. Perbedaan rahim, tempat lahir dan kepercayaan kedua orantua kita tidak harus merenggangkan persaudaraan.

Arthanegara nampaknya hendak menyampaikan pesan toleransi pada kita, bahwa persaudaraan dan saling menghormati adalah utama. Kita ditakdirkan boleh berbeda tapi semua adalah saudara. Etika universal kemanusiaan Tat Twam Asi adalah sebuah ajaran yang sangat baik yang membawa pesan kasih pada sesama.

Dalam kitab agama Nasrani dikenal ungkapan “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan”. Dalam ajaran agama Islam dikenal ajaran sesama manusia untuk saling mengenali, bersaudara dan saling tolong menolong, berlomba-lombalah dalam kemuliaan. Betapa indah kehidupan kemanusiaan kita bila mentalitas kolektif bangsa kita seperti Arthanegara.

Saat ini bangsa kita masih sedang dilanda radikalisme, saling hujat dan tak nyaman atas kesuksesan kelompok lain. Terkadang setiap kelompok yang berbeda SARA dan paratai politik menjadi pemantik perbuatan tak sehat. Perbuatan tak sehat ini karena rasa kemanusiaan dalam bathin kita rendah. Rasa biologis mengalahkan rasa teologis dalam diri kita.

Kata, tindak dan insting hewani terkadang mendominasi mentalitas bangsa kita. Padahal kalau kita berprinsip seperti Artahanegara dengan toleransi yang tinggi, segala bentuk kebencian dan hoaks tentu akan menghilang. Ada penganut agama tertentu yang “kikir” mengucap selamat kepada penganut agama yang lain. Ini sebuah prinsip dan ketaatan dari penganut agama tertentu yang baik menurut ego perspektifnya namun kurang pas dalam masyarakat yang multi religi.

Ilmu sosial mengajarkan konformitas, adaptasi, toleransi, supel dan kenyal dalam menghadapi dinamika realitas. Ilmu agama terkadang difahami mengajarkan dogma yang kaku dan beku. Padahal realitasnya tidak demikian. Pemahaman dan penafsiran membuat orang bersikap berbeda. Inilah masalah perspektif beragama.

Agama bukan kacamata kuda, agama mengajarkan kasih dan kemanusiaan yang adiluhung. Agama menempatkan manusia pada posisi istimewa. Dalam ajaran agama Islam manusia adalah ciptaan Tuhan paling istimewa dibanding semua ciptaan yang Tuhan ada. Manusia berada dalam kelas khsusus, limited edition.

Malaikat, Jin, Syeitan, bumi, langit dan jagat raya semuanya untuk manusia. Untuk menjadi jagat raya belajar bagi manusia. Tuhan memuliakan derajat manusia di atas semua ciptaan-Nya. Betapa bodohnya kita bila harus “menghakimi” dan alergi atas ucapan selamat kepada sesama manusia lain walaupun beda kepercayaan.

Arthanegara sebagai seorang Hindu Dharma demi sebuah toleransi dan memuliakan serta turut berbahagia pada saudara beda agama. Ia berani menggunakan pakain dan latar belakang tempat ibadah agama yang tidak dianutnya. Ini sebuah rasa kemanusiaan yang baik berkat pemahaman agama yang telah selesai.

Penganut agama yang radikalis, menutup diri, kurang pergaulan dan kikir ucapan selamat dan turut bahagia atas perayaan agama lain patut dipertanyakan pemahaman agamanya. Tuhan telah menghadirkan agama sebagai “nasib” bagi penganutnya. Ia lahir dari rahim siapa? Dimana dan keturunan agama apa? Akan menjadi “warisan” kepercayaannya.

Bahkan Sang Begawan Soejatmiko sangat ekstrim namun membawa pesan toleransi yang menggigit, Ia menyatakan bahwa negara kita adalah negara Pancasila yang menjamin keberagamaan warga negaranya. Setiap waraga negara di Indonesia diberi kebebasan memeluk agama yang diyakininya. Bahkan boleh berpindah dari agama yang satu pada agama yang lainnya. Boleh pindah atau berpindah agama sesuai “selera” kebathinan warga negaranya.

Walaupun “pepatah” Soejatmiko begitu prinsip dan vulgar dalam etalase toleransi. Namun kita tidaklah harus pindah dan berpindah agama. Mari kita saling menghargai sesama manusia, sesama warga negara dan sesama penganut beda agama dengan saling mengasihi dan mencintai atas dasar etika universal sebagai makhluk Tuhan yang penuh dosa dan kebodohan.

(74)