Prof.Surya Gurunya Guru

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Dua hari bersama Prof.Surya banyak hal yang bisa dipetik dari apa yang disampaikan dalam canda bercampur diskusi atau diskusi bercampur canda terkait pendidikan dan keorganisasian. Sayang Saya tidak sempat mencatat apa yang disampaikan Beliau, biasanya Saya didampingi notulis organisasi yang piawai mencatat kata demi kata dari forum diskusi atau acara formal.

Dengan segala keterbatasan daya ingat, Saya akan mencatat beberapa kata-kata Prof.Surya yang dapat menjadi bekal bagi para guru dan pengurus organisasi. Ia mengatakan banyak hal diantaranya mengutip pernyataan Presiden Amerika John F Kennedy yang mengatakan, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!

Prof.Surya berharap bahwa semua anggota PGRI terutama para pengurus PGRI sebaiknya berprinsip “Jangan tanya apa yang dapat PGRI berikan pada kita melainkan tanya apa yang dapat kita berikan pada PGRI.” PGRI adalah rumah kehormatan guru harus dibesarkan bersama dan menjadi tempat saling menguatkan silaturahmi dan menjadi wadah perjuangan para guru. Hindari menjadi kader “Bajing Luncat” di PGRI. Ungkapan ini tertulis dalam buku beliau yang berjudul “Menjadi Guru”

Dalam hal mendidik, Beliau menyarankan pada setiap guru agar menghargai setiap peserta didik sebagai pribadi-pribadi potensial walau terkadang terlihat bandel dan nakal. Anak adalah anak Ia adalah pribadi-pribadi yang bukan hanya harus sekolah melainkan harus belajar. Bagi dirinya sekolah tidak lebih penting dari belajar. Tidak sedikit anak yang sekolah tetapi tidak belajar. Namun tidak sedikit juga tokoh hebat di negeri ini yang tidak sekolah tetapi belajar dengan baik.

Seorang guru harus membuat setiap anak belajar karena belajar adalah inti dari tujuan mengapa anak disekolahkan. Bahkan Beliau dalam buku terbarunya “Humor, Strategi Kognitif Dalam Pembelajaran” mengatakan bahwa kemampuan humor dibutuhkan para guru agar setiap siswa bergairah, tanpa merasa bosan. Bercanda, anekdot, permainan kata, hiperbolik dan berbagai cara kreatif berkomunikasi diperlukan.

Menurut Beliau dalam bukunya yang berjudul “Babad Alas Amer” mengatakan bahwa setiap kita penting “Hade Gogog Hade Tagog”. Bila dikaitan dengan profesi guru artinya setiap guru harus memiliki kemampuan komunikasi serta berpenampilan yang cakep. Mungkin guru zaman now harus narcis, humanis serta manis didengar dan dilihat. Guru yang enak diajak bicara, smart dan humoris serta berpenampilan gagah akan menjadi sosok yang dirindukan.

Hal lainnya Prof.Surya menyarankan betapa pentingnya setiap guru untuk menulis. Menulis adalah sebuah keterampilan yang dapat mendatangkan banyak hal. Mulai dari bermanfaat untuk kredit poin sampai bisa mendatangkan keuntungan finansial. Bagi Prof.Surya menulis adalah sebuah kreatifitas yang mampu menembus ruang dan waktu. Bahkan saat kita sudah tiada tulisan kita akan tetap bermanfaat dan bermakna bagi orang lain. Di usianya yang hampir 77 tahun Prof.Surya masih tetap menulis dan menulis. Tulisan terbarunya dimuat di salah satu media cetak tanggal 5 bulan Mei 2018 berjudul “Pendidikan Dan Pembelajaran”.

Terakhir diujung tulisan ini saya ingin mengatakan Prof.Surya adalah guru yang benar-benar guru. Mengapa saya katakan demikian ? Setidaknya ada dua hal yang dapat Saya tangkap. Pertama, antusiasme yang luar biasa bila Beliau menyampaikan materi pada audien atau lawan bicara, plus dicampur humor. Guru yang baik selalu penuh smangat, hangat dan memiliki kata-kata yang “menyengat” sehingga susah dilupakan pendengarnya.

Kedua, saat saya membawa Beliau di SMPN 5 Kota Sukabumi, tiba-tiba datanglah seorang lelaki berumur dan ternyata pensiunan kepala SMA. Ia langsung memeluk dan mencium tangan Prof.Surya. Sebuah ekspresi kerinduan seorang anak didik terhadap guru idolanya. Prof.Surya kaget dan beberap detik kemudian Ia mengenali siapa yang mencium tangan dan memeluknya dengan emosional. Ia langsung menyapa dengan akrab dan menyebut namanya.

Kemampuan mengingat nama murid yang sudah lama tak bertemu adalah sebuah kompetensi pedagogik dari seorang guru yang benar-benar guru. Dan hal lebih luar biasa adalah nuansa pertemuan yang terlihat “emosional” menjelasakan sebuah ekspresi spontan dari kenangan lama yang sangat “long term memory”.

(12)