Semende Dalam Sejarah

Pewarta : Iwan Brata Darma

Koran SINAR PAGI, Muara Enim,- Menyebut dan membicarakan Semende, maka akan terjadi rangkaian kata dan makna dengan sebutan:

1.Jeme Semende

2.Tanah Semende

3.Bahasa Semende

4.Adat Semende

ORANG SEMENDE/JEME SEMENDE

Orang Semende atau Jeme Semende merupakan komunitas tersendiri di Provinsi Sumatera Selatan yang tinggal dan berdiam di Kecamatan Semende, Kabupaten Muara Enim. Semende termasuk bagian dari kelompok Pasemah, termasuk Lematang, Lintang dan Lembak. Secara geografis Semende di bagi menjadi 2 kelompok, yaitu: 1)

1.Semende Darat di Kabupaten Muara Enim

2.Semende Lembak di Kabupaten Ogan Komring Ulu

Perjalanan hidup orang Semende menganut agama Islam pada awalnya dimulai dari adanya seorang Ulama (Wali) di Semende (Tumutan Tujuh): Tuan Guru SUTABARIS, dengan gelar MURTHABARAQ yang setingkat atau semasa dengan para wali Sembilan: Sunan Ampel, di Pulau Jawa2) sekitar abad 15 Masehi. Perjalanan hidup tersebut dapat diceritakan sebagai berikut.

1.Sunan Kali Jaga diantaranya adalah murid Sutabaris dan sebelum menjadi Wali Allah gurunya ada 3 (tiga) orang sebagai berikut :

1.Sunan Bonang selama 8 (delapan) tahun

2.Sunan Ampel selama 3 (tiga) tahun

3.Sutabaris di Tumutan Tujuh Semende selama 3 (tiga) tahun

2.Di Tumutan Tujuh Semende pernah diadakan rapat dan pertemuan-pertemuan penting para Wali untuk memecahkan permasalahan – permasalahan di Bumi Nusantara (Indonesia) pada saat itu, diantaranya musyawarah dalam menentukan Raja Islam pertama di Demak, Raden Fatah.

Para Wali yang rapat bermusyawarah di Tumutan Tujuh Semende tersebut adalah 4 (empat) orang wakil dari Wali Sembilan di Jawa dan seorang dari Sumatera, yaitu :

1.Sunan Gunung Jati (Cirebon Jawa Barat)

2.Sunan Kali Jaga (Jawa Tengah)

3.Sunan Muria (Jawa Tengah)

4.Sunan Bonang (Jawa Timur)

5.Sutabaris (Sumatera/Semende)

1).Sumber Browsing Internet

2).Sumber dari KH. Kgs Abdurrahman Guru Tarikat Sammaniyah

Dari sumber lain setelah itu menyatakan banyak orang-orang dan para ulama datang untuk belajar, membawa ilmu pengetahuan dan menetap di Semende, yaitu :

1.Puyang Tuan Raje Ulie tinggal di Prapau

2.Puyang Baharuddin di Muara Danau

3.Puyang Leby (Pengulu Abd. Kohar) di Pulau Panggung

4.Puyang Nakanadin di Muara Tenang

5.Puyang Mas Pangeran Bonang di Muara Tenang

6.Puyang Skin Mande (Sang Diwe) di Muara Tenang

7.Puyang Raden Singe (asal Majapahit) di Muara Tenang

8.Puyang Rabbushshamad di Tanjung Raya

9.Puyang Regan Bumi di Tanjung Raya

10.Puyang Same Wali di Tanjung Tiga

11.Puyang Tuan Kecik (Rebiah Sakti) di Tanjung Laut

12.Puyang Raden Walet di Aremantai

13.Puyang Rene di Pulau Panggung dari Jepara (Tahun 1800 M)

Adanya Sutabaris di Semende (Tumutan Tujuh) dan terjadinya rapat/musyawarah di Semende yang dihadiri 4 (empat) Wali diantara 9 (sembilan) Wali dari Jawa serta berdatangannya orang-orang dan para ulama/wali (puyang, sebutan Jeme Semende) membuktikan bahwa ajaran islam (Tauhid dan Syariat), adat istiadat (kebudayaan Islam) sudah sejak lama dikenal oleh Jeme Semende.

Mengapa orang semendo (Jeme Semende) tidak ingin mencari tahu, menyelidiki/mempelajari tentang sejarah semende ? Namun demikian, ketaatan Jeme Semende beragama Islam dan menjalankan syariatnya telah dimulai sejak masih anak-anak, muda dan tua telah membuktikan adanya pengaruh ajaran Islam yang mendalam kepada jeme semende.

Dengan demikian, ajaran islam tertanam dan terpatri pada rohani dan jasmaninya. Jeme Semende dalam pergaulannya memakai adat tunggu tubang yang berpedoman pada Al Quran dan Al Hadist, diantaranya: mencintai, menghargai dan membela perempuan (Tunggu Tubang) yang dipimpin oleh Meraje.

Hal tersebut sesuai dengan salah satu perintah ajaran Islam, tafsir H. Oemar Bakri: QS. Almujadalah, ayat 1-4. Inilah salah satu cara Islam meningkatkan derajat wanita. Wanita tidak boleh dibiarkan nasibnya terlunta-lunta.3)

Pesatnya perkembangan agama islam di Semende dapat dibuktikan dengan adanya para ulama atau kiai yang “naun” di Makkah yang pulang ke Semende, salah satunya, K.H. Mukhtar (ahli Nahu dan Fiqih) di Pulau Panggung.

(31)