writing an essay for scholarship application how to insert a quote into an essay writing in computer science field gay marriage paper

Harga Beras Tinggi, Komunitas Gacor Rancaekek Malah Bagi-Bagi Beras

Pewarta : Dimas Madia

Koran SINAR PAGI, Bandung,– Komunitas Gerakan Cinta Orang Rancaekek (Gacor) yang berdomisili di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung biasa melakukan aksi kepedulian sosial seperti bagi-bagi beras dan santunan uang terhadap para kaum duafa yang berlokasi di Rancaekek.

Aksi kepedulian sosial tersebut biasa di lakukan oleh komunitas Gacor pada Hari Jumat disetiap Minggunya, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan rasa empati terhadap warga Rancaekek yang terkategorikan kaum marjinal.

Bagi-bagi beras secara sukarela di Desa Sukamulya Rancaekek, Kabupaten Bandung.

“Kita biasa lakukan setiap hari jumat, agendanya bagi-bagi beras dan sedikit santunan uang bagi warga yang membutuhkan”, kata pengurus Gacor, Imas Masitoh, saat ditemui Koran SINAR PAGI, Sabtu (20/01) di Rancaekek.

Imas mengatakan, aksi tersebut semata-mata karena rasa empati yang dilakukan secara ikhlas oleh seluruh anggota komunitas.

“Anggotanya enggak banyak, tapi kita buat skema kerjanya, yang jelas penyelenggaraannya setiap hari Jumat”, ungkapnya.

Seperti bagi-bagi beras yang dilakukannya pada Jumat 18/01/2018 belum lama ini, terhadap kaum duafa disekitar Kampung Patrol dan Rancabereum.

Pembagian beras juga dilakukan di Kampung Patrol.

“Kemarin kita bagi-bagi beras di Kampung patrol dan Rancabereum Desa Sukamulya, memang engga banyak, kemarin aja cuman 50 kilogram beras, tapi itu rutin”, tuturnya.

Selain itu, kegiatan yang dilakukannya sebagai bentuk sikap kepada pemerintah menyikapi keluhan masyarakat terhadap tingginya harga beras, terutama dampak bagi kaum duafa.

“Saya prihatin bagi kaum duafa menyikapi tingginya harga beras, apalagi di Rancaekek ada beberapa tempat yang menjual dengan harga Rp. 17rb/kg, itu miris sekali”, keluhnya.

Dijelaskan Imas, sumber dana yang diterima komunitas tersebut, dilakukan dalam bentuk “udunan” dan titipan untuk disalurkan secara sukarela baik dari agniawan maupun para pengusaha, diluar anggaran pemerintah.

“Kita lakukan secara udunan. Selain itu, ada beberapa donatur yang rutin memberikan bantuan, mereka titipkan ke kita, yang terpenting kita lakukan ini secara ridho dan tulus, tanpa adanya kepentingan yang lain”, tutupnya.

(116)