Diduga Oknum Bidan Desa “Peras” Pasien

Pewarta : Heri Kusnadi

Koran SINAR PAGI, Ogan Ilir

Oknum Bidan Desa Sukamerindu Kecamatan Pemulutan Barat Kabupaten Ogan Ilir diduga “peras” pasien hingga Rp.800 ribu per pasien melahirkan.

Bagi pasien yang hendak melalukan persalinan harus menyiapkan uang dengan kisaran antara Rp.600 ribu hingga Rp.800 ribu.

Dan jika si Pasien tidak memiliki uang cukup maka menjadi hutang piutang yang harus dibayar kemudian hari.

Itulah yang terjadi di desa Sukamerindu Kecamatan Pemulutan Barat yang dilakukan oleh oknum Bidan desanya, Hastuti.

Menurut sumber dari dua pasang suami istri,
DW(25) dan Suami AL(27)berikut pengakuan dari RK(27) dan suami HS(30), yang merupakan pasien persalinan dari Bidan Desa tersebut mengatakan bahwa Bidan yang bertugas di desanya juga merangkap sebagai PJs Kades.

“Persalinan kami kemarin waktu melahirkan dibantu oleh beliau dan diminta uang senilai Rp.800 ribu. Kalo uangnya tidak cukup jadi hutang”, ujar Sumber menjelaskan.

Dan setiap ada masyarakat yang ingin melahirkan rata-rata harus membayar uang jasanya senilai Rp.600 ribu hingg Rp.800 ribu.

Proses bersalin pun dilakukan dirumah pasien karena Bidan mendatangi ke rumah-rumah bukan di tempatkan PosLindes (Pos Persalinan Desa).

Padahal sesuai Permenkes semestinya ibu hamil yang akan melakukan proses persalinan, harus ditempatkan di Polindes.

Menurut Sumber, sudah banyak sekali pelanggaran yang telah dilakukan oleh oknum bidan, Hastuti, mulai dari uang persalinan hingga penempatan pasien.

Untuk itu, diminta kepada dinas terkait kiranya menindaklanjuti kinerja Bidan desanya yang dinilai tidak maksimal dalam bekerja. Bahkan diduga justru mencari keuntungan.

Menanggapi hal itu, Bidan Desa, Hastuti ketika dikonfirmasi media ini di kediamannya, mengakui jika diriny menerima uang jasa dari si Pasien.

Tetapi dirinya menampik jika memaksa dan menentukan besarannya.

Menurutnya besaran uang yang diterima yakni hanya sukarela dan semampu si Pasien.

Hastuti pun membenarkan jika mendatangi rumah pasien dengan alasan faktor alam dan desanya termasuk daerah terpencil.

Kejadian diatas terjadi dikarenakan kurangnya sosialisasi ke masyarakat sehingga terkadang menjadi sasaran empuk bagi oknum tertentu untuk mencari keuntungan.

(68)