Yang Tersisa Dari Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia Ke – 71

Pewarta : avenk
Koran SINAR PAGI, Sukabumi

Seiring dengan perkembangan zaman, sudah menjadi hal yang tidak mengherankan ketika banyak ditemui orang – orang yang tidak lagi menganggap sakral suatu acara atau tradisi, baik yang bersifat kedaerahan maupun nasional.

Hal tersebut tidak saja dilakukan orang – orang dari kalangan masyarakat biasa, tapi kalangan orang yang memiliki jabatan cukup strategispun tak sedikit yang melakukannnya, mereka seolah berfikir, “Ulah Teu Hadir Teuing” ( asal mengikuti saja, red ) memenuhi undangan suatu acara, soal khidmat tidaknya urusan belakangan.

Seperti yang terjadi pada Upacara Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke – 71, tingkat Kota Sukabumi 17 Agustus 2016 lalu, saat peserta upacara dalam posisi sikap sempurna dan tamu undangan dimohon untuk berdiri karena ada satu momen yang harus mendapat penghormatan khusus, dari tribun sebelah utara yang diisi orang – orang penting di dunia pendidikan Kota Sukabumi, tampak dua orang bersebelahan, salah satunya adalah Asep Sukanta Kepala SMAN IV Kota Sukabumi, kendati dalam posisi berdiri mengikuti anjuran pembawa acara, tapi perhatiannya lebih terfokus pada gadget ditangannya.

Ketika hal tersebut disampaikan kepada yang bersangkutan beberapa hari berselang pasca acara kenegaraan tersebut, dengan santai Asep mengaku ada pesan yang masuk dari propinsi, bahkan dengan angkuhnya mengatakan,”Silahkan kalau mau diberitakan, gak ngaruh buat saya,” katanya, seraya berlalu karena akan menghadiri undangan sebuah acara.

Inikah efek dahsyat dari sebuah perkembangan zaman ? Kecanggihan teknologi seolah melunturkan nilai – nilai penghargaan terhadap tradisi yang sakral.

(5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *