Rusunawa Transit Rancaekek Dinilai Tak Sesuai MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah)

Pewarta : Dimas Madia

IMG20160802154149Pengelola teknis lapangan Transit Rusunawa Rancaekek, Tezar Rachman, S.T.

Koran SINAR PAGI, Bandung,- Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia selain kebutuhan dasar sandang dan pangan yang merupakan tempat tinggal, tempat berlindung dari cuaca maupun gangguan lingkungan lainnya dan sebagai tempat terkecil pengembangan kehidupan sosial budaya manusia.

Kebutuhan akan hunian khususnya di kawasan permukiman perkotaan dari waktu ke waktu semakin meningkat seiring dengan dinamika pertumbuhan penduduk dan ekonomi di kawasan tersebut.

Tingginya kebutuhan hunian tersebut selain kebutuhan alamiah juga dipicu oleh pergerakan penduduk yang datang dari luar kawasan tersebut untuk mencari lapangan pekerjaan atau meningkatnya taraf kehidupan.

Pemenuhan kebutuhan hunian oleh masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di bawah rata-rata Rp. 3.000.000,- perbulan masih banyak menemukan kendala, karena tingginya harga lahan di kawasan perkotaan, rendahnya akses terhadap kelembagaan keuangan/perbankan, rendahnya daya beli yang secara umum sangat mempengaruhi tehadap mahalnya harga hunian.

Untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah, tidak dapat hanya diserahkan kepada mekanisme pasar yang berlaku, tetapi perlu intervensi Pemerintah untuk memfasilitasi pemenuhan kebutuhan tersebut.

Berbagai skema stimulasi untuk mendekatkan akses penghunian bagi masyarakat telah diluncurkan oleh pemerintah. Salah satu skim pemerintah untuk memenuhi kebutuhan hunian khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah diantaranya melalui pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (RUSUNAWA) yang merupakan stimulus penyediaan hunian yang layak dan sebagai hunian sementara bagi masyarakat MBR sebelum mempunyai hunian tetap sesuai dengan tahapan peningkatan kesejahteraannya baik itu dalam bentuk rumah tapak ataupun rumah susun milik.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dalam upaya mendukung terpenuhinnya kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah khususnya para pekerja industri, penataan kawasan kumuh perkotaan serta percontohan pengelolaan lingkungan hunian rumah susun, telah bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum membangun Rumah Susun Sederhana Sewa yang diantaranya berlokasi di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Dalam upaya mengkondusifkan lingkungan hunian Apartemen Transit Rusunawa Rancaekek – Jawa Barat, Balai Pengelolaan Pelayanan Pemukiman Jawa Barat (BP3JB) melakukan Intensifikasi kepada peserta hunian yang telah terdaftar di seluruh titik bangunan.

Bp3jb melalui Pengelola teknis lapangan Transit Rusunawa Rancaekek, Tezar Rachman S.T mengatakan, sesuai ketentuan pemerintah Apartemen Transit Rusunawa tersebut tidak diperuntukan diluar kategori Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Sehingga dikatakannya, pihak pengelola akan melakukan penertiban secara intensif apabila terjadi sewaktu-waktu peserta hunian sudah tidak terkategorikan MBR.

“Kita lakukan upaya penertiban dengan teknis yang pertama mengaudit ulang seluruh data peserta hunian melalui pembaharuan data, yang kedua mengevaluasi hasil colekting atau auditing data yang telah termuat, yang ketiga memverifikasi sesuai standarisasi MBR yang ditentukan dan selanjutnya eksekusi dalam bentuk angkat kaki bagi peserta hunian yang tidak termasuk kategori MBR”. Kata Tezar, saat ditanyai Koran Sinar Pagi. Belum lama ini.

Selain itu Tezar mengungkapkan, dari hasil pembaharuan data yang dilakukan termuat 5 kamar hunian yang telah dilayangkan surat oleh pihak Bp3jb. Dalam hal ini pihak BP3JB memberikan kesempatan waktu untuk persiapan angkat kaki sebagai peserta hunian transit Rusunawa.

“Baru-baru ini telah kita layangkan 5 surat konfirmasi kepada peserta hunian yang dinilai tidak sesuai standarisasi ketentuan peserta hunian. Hasilnya, 4 surat sudah terdapat jawaban sisanya 1 surat sampai saat ini belum ada jawaban, bahkan telah kita cek orang terkait selalu tidak ada di kamar yang dihuninya”. Tutur Tezar.

Tezar menambahkan, dalam pelaksanaan intensifikasi tersebut dilakukan 1 minggu sekali di lingkungan pengelola Transit Rusunawa Rancaekek hingga minggu yang keempat akan dilaksanakan eksekusinya. Selanjutnya, pihak pengelola akan meminta untuk didampingi oleh Rt Rw dan tokoh masyarakat sekitar dalam pelaksanaan eksekusinya.

“Kita akan meminta tokoh masyarakat beserta Rt dan Rw sekitar untuk mendampingi pihak pengelola Transit Rusunawa Rancaekek dalam melaksanakan eksekusi nanti, sebab ini bagian kepentingan bersama untuk mewujudkan tujuan yang diharapkan.” Tutupnya.

(480)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *